Pemulihan pasca bencana alam, terutama di sektor kesehatan, merupakan indikator krusial dari kesiapsiagaan suatu wilayah. Di tengah upaya mitigasi dan rekonstruksi di tiga provinsi terdampak bencana di Sumatera, kabar baik datang dari infrastruktur pelayanan publik. Sebanyak 280 unit fasilitas kesehatan (faskes) yang sebelumnya mengalami gangguan operasional dipastikan telah kembali beroperasi secara normal dan penuh.
Keberhasilan luar biasa ini menandakan kecepatan respon pemerintah daerah dan pusat dalam mengembalikan akses layanan medis vital bagi masyarakat. Namun, di balik angka pemulihan yang masif, perhatian kini difokuskan pada dua unit faskes yang hingga kini masih beroperasi di luar gedung utama.
Menilik Keberhasilan Pemulihan Fasilitas Kesehatan Pasca Bencana
Angka 280 faskes yang kembali berfungsi normal mencerminkan skala prioritas yang tinggi terhadap sektor kesehatan. Ketika bencana melanda, kerusakan pada faskes, mulai dari Puskesmas hingga klinik pembantu, dapat melumpuhkan sistem pelayanan dasar, yang ironisnya, justru paling dibutuhkan saat situasi darurat. Oleh karena itu, percepatan pemulihan ini bukan hanya sekadar perbaikan fisik, melainkan jaminan bahwa rantai pertolongan medis tidak terputus.
Data Kuantitatif dan Area Terdampak
Pemulihan ini meliputi berbagai jenis layanan, memastikan bahwa mulai dari vaksinasi, persalinan, hingga penanganan penyakit umum dapat diakses kembali oleh warga yang terdampak. Proses normalisasi ini melibatkan inspeksi struktural, pembersihan ekstensif, dan perbaikan sarana prasarana vital seperti air bersih dan listrik. Keberhasilan ini terwujud berkat kolaborasi erat antara otoritas kesehatan lokal, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta dukungan logistik yang cepat.
Normalisasi operasional berarti faskes tersebut telah dapat memberikan layanan yang komprehensif sebagaimana mestinya sebelum bencana terjadi. Meskipun demikian, pencapaian total 100% masih menyisakan pekerjaan rumah yang menantang.
Tantangan Terakhir: Operasi Pelayanan di Tengah Keterbatasan Fisik
Fokus kini beralih pada dua unit faskes yang menjadi pengecualian dari total 282 unit terdampak. Kedua faskes ini, meskipun tetap memberikan pelayanan tanpa henti, terpaksa melakukannya dari struktur sementara atau tenda darurat di sekitar lokasi bangunan utama yang rusak parah atau masih dalam tahap renovasi total. Kondisi ini membawa tantangan tersendiri, terutama terkait kenyamanan pasien, efisiensi kerja tenaga kesehatan, dan kapasitas penanganan medis yang terbatas.
Strategi Layanan Darurat di Luar Gedung
Pengoperasian layanan di luar gedung utama merupakan strategi mitigasi sementara untuk memastikan bahwa kebutuhan esensial masyarakat tetap terpenuhi. Walaupun berada di luar struktur permanen, pelayanan yang diberikan tetap mengikuti standar kesehatan yang berlaku, dengan fokus pada layanan primer dan kegawatdaruratan ringan. Personel medis yang bertugas menunjukkan dedikasi tinggi dengan beradaptasi pada lingkungan kerja yang jauh dari ideal, sering kali harus menghadapi keterbatasan ruang penyimpanan obat, privasi pasien, dan risiko cuaca.
Dua faskes yang tersisa ini memerlukan penanganan khusus, kemungkinan besar karena tingkat kerusakan struktural yang signifikan sehingga membutuhkan proses pembangunan ulang yang lebih lama dan perencanaan yang matang agar tahan terhadap potensi bencana di masa mendatang. Pemerintah daerah bersama Kementerian Kesehatan diimbau untuk mempercepat proses revitalisasi struktural kedua faskes ini. Targetnya adalah mengembalikan kedua fasilitas tersebut ke dalam bangunan permanen sesegera mungkin, sehingga Sumatera dapat mencapai capaian pemulihan 100% faskes pasca bencana.
Kisah pemulihan 280 faskes ini adalah narasi tentang ketangguhan. Namun, penyelesaian tuntas dua unit faskes terakhir akan menjadi bukti komitmen penuh bahwa tidak ada satu pun komunitas yang tertinggal dalam mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang layak dan aman, bahkan di daerah paling rawan bencana.