Kasus konflik sosial, khususnya tawuran antarkelompok, seringkali menjadi momok yang sulit diatasi di kawasan urban padat penduduk. Namun, upaya proaktif dan langsung baru-baru ini digagas oleh Kepolisian Metro Jakarta Selatan. Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes I Putu Yuni Setiawan, mengambil langkah taktis yang berbeda dari pendekatan konvensional: mengunjungi langsung Manggarai dan berdialog intensif dengan warga setempat untuk menggali akar masalah dan mencari solusi bersama.
Kunjungan ini bukan hanya sekadar formalitas, melainkan sebuah strategi mendalam yang menempatkan komunitas sebagai garda terdepan dalam menjaga ketertiban. Fokus utama dialog tersebut adalah merumuskan strategi pencegahan tawuran dan memerangi peredaran narkoba yang kerap menjerat generasi muda di wilayah tersebut.
Menggagas Sinergi: Polisi dan Warga Duduk Bersama di Garis Depan
Pendekatan Kombes I Putu Yuni Setiawan ini menekankan pentingnya sinergi antara aparat kepolisian dan masyarakat sipil. Selama ini, pencegahan kriminalitas seringkali bersifat reaktif, menunggu kejadian baru terjadi. Melalui dialog di Manggarai, tujuannya adalah membalik paradigma tersebut menjadi tindakan preventif yang didasarkan pada informasi dan kepedulian dari dalam komunitas.
Membongkar Mitos Pendekatan Konvensional
Manggarai, sebagai salah satu titik rawan, memerlukan solusi yang lebih personal dan tepat sasaran. Kapolres menyadari bahwa kehadiran fisik saja tidak cukup; yang dibutuhkan adalah rasa kepemilikan solusi dari warga sendiri. Diskusi tersebut membahas secara terbuka mengenai pemicu tawuran, mulai dari masalah sepele, kesalahpahaman antarkampung, hingga intervensi dari pihak luar. Dengan mendengar langsung keluhan dan saran dari tokoh masyarakat, sesepuh, dan pemuda, Kepolisian dapat menyusun peta jalan yang lebih efektif.
Fokus Ganda: Menangkal Tawuran dan Memutus Rantai Narkoba
Tawuran sering kali memiliki keterkaitan erat dengan penyalahgunaan zat adiktif. Narkoba tidak hanya merusak individu, tetapi juga menurunkan ambang batas emosi dan memicu keberanian destruktif, yang berujung pada aksi tawuran. Oleh karena itu, agenda pencegahan tawuran tidak dapat dipisahkan dari perang melawan narkotika.
Peran Vital Orang Tua dan Tokoh Masyarakat dalam Pencegahan
Dalam pertemuan tersebut, ditekankan bahwa peran orang tua sangat fundamental. Kapolres mengajak warga untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak mereka, terutama di malam hari. Selain itu, tokoh agama dan tokoh masyarakat di Manggarai didorong untuk lebih aktif dalam memberikan edukasi moral dan membangun kegiatan positif yang dapat menyalurkan energi remaja, seperti kegiatan olahraga atau seni, sebagai alternatif dari kegiatan negatif yang berpotensi memicu konflik. Program-program rehabilitasi berbasis komunitas juga diusulkan sebagai langkah komprehensif untuk mengatasi masalah narkoba di kalangan pemuda.
Komitmen Jangka Panjang Menuju Manggarai Bebas Konflik
Langkah dialogis yang diambil Kapolres Metro Jakarta Selatan ini diharapkan menjadi model bagi wilayah lain. Keberhasilan pencegahan di Manggarai tidak diukur dari penurunan jumlah penangkapan, melainkan dari meningkatnya kesadaran kolektif warga untuk menjaga lingkungan mereka sendiri. Komitmen polisi adalah memastikan bahwa saluran komunikasi ini tetap terbuka dan berkelanjutan, bukan hanya berhenti setelah kunjungan selesai.
Dengan strategi 'jemput bola' ini, Kepolisian berupaya mengubah persepsi bahwa polisi hanya hadir saat masalah terjadi. Sebaliknya, Kepolisian hadir sebagai mitra strategis yang siap mendukung inisiatif komunitas demi menciptakan lingkungan Jakarta Selatan yang aman, tertib, dan bebas dari ancaman tawuran serta narkoba yang merusak masa depan generasi penerus.